pemikiran Islam · resensi

Resensi buku Naqdu awham al Maddiyyah, Kritik Materialisme Dialektis Dr Buthi

Judul                           : Naqdu Awham al Maddiyyah al Jadaliyyah/ نقد أوهام المادية الجدلية

Penulis                         : Sa’id Romadhon al Buthi/ سعيد رمضان البوطي

Penerbit                       : Dar al Fikr al Mu’ashir/ دار الفكر المعاصر

Tebal                           : 294 Halaman

 

 

 

 

 

Kritik Materialisme Dialektis

Bagi kalangan intelektual yang mendalami filsafat tentu mengerti bahwa tak ada hubungan langsung antara atheisme dengan komunisme. Namun, aliran komunisme-leninisme yang disandarkan kepada Karl Marx, Friedrich Engels dan Vladimir Lenin adalah hal lain. Betapapun komunisme model ini adalah manifestasi sosialisme yang bermain di sistem ekonomi, politik dan sosial, namun pemikiran ini selalu dipelajari dan diperjuangkan satu paket dengan materialisme dialektis yang menjadi dasar berpikirnya. Sedangkan materialisme sendiri sejak awal kemunculannya selalu berada dalam hubungan diametral dengan agama. Pasalnya, materialisme dianggap menolak eksistensi Tuhan. Forum-forum formal Islam juga senantiasa meletakkan Marxisme-Leninisme dalam kategori “ideologi lawan”, atau dalam jargon Rabithah al Alam al Islami/Islamic Word Association “ideologi yang menentang Islam” (al fahm al muhaddad li al Islam). Dalam forum-forum resmi internasional di kalangan kaum muslimin, Marxisme-Leninisme dalam “baju” komunisme secara rutin dimasukkan ke dalam paham-paham yang harus ditolak secara tuntas.

 

Buku karya Syekh Romadhon al Buthi ini ditulis sebagai reaksi akademik terhadap maraknya penyebaran dan pengaruh komunisme ini di timur tengah. Pemikiran komunis bukan hanya dibaca secara kritis sebagai teks ilmiah, namun menjadi ideologi yang didalami dan dijadikan pegangan dengan pasrah. Jika karya-karya Munir Syafiq seperti al Daulah wa al Tsawroh mengkritisi pemikiran partikular dari komunis ini, al Buthi mengkritisi dasar dan kategori berpikir dari ideologi tersebut, materialisme dialektis.

 

Buku ini -menurut pengakuan penulis- menggunakan argumen rasio filsafat murni dan jauh dari gaya doktrinisasi. Hal ini bertujuan agar buku ini dapat diterima oleh berbagai kalangan khususnya para filosof yang menyandarkan pemikirannya pada akal dan positivisme semata. Berbeda dengan Tahafut al Falasifah karangan al Ghozali yang mengkritisi filsafat dengan filsafat agama(mantiq), Penulis dalam penyampaian argumennya -berusaha- menghindari filsafat agama dan memilih menggunakan rasio murni dengan membandingkan dan membenturkan pemikiran-pemikiran yang beliau anggap salah dan irasional, dengan pemikiran lain yang dianggap benar dan rasional.

 

Secara garis besar, buku ini berisi pengantar, pendahuluan, dan kritik yang terbagi dalam empat bagian. Kata pengantar bercerita tentang pengalaman dan motivasi penulis dalam menulis buku ini, serta metode yang digunakannya. Sedangkan pendahuluan berisi pengenalan konsep dialektika dari era Heraclitus sampai Marx dan Engels, pengenalan tentang konsep dialektika Hegel dan dialektika Marx, serta kategori berpikir dialektika ( maqulat al jadaliyyah).

 

Kritik dalam buku ini dibagi dalam empat bagian. Bagian pertama terhadap landasan teoritis dan hukum-hukum dialektika, yaitu kutub berlawanan yang saling merasuki (wahdah al adhdhod wa shiro’uha), perubahan kuantitas menjadi kualitas (tahawul al kam ila al kaif) , dan negasi dari negasi(nafyu al nafyi) . Bagian ke dua terhadap kategori berpikir dan konsepsinya (naqdu al maqulat wa mustalzamiha). Bagian ke tiga terhadap materialisme historis (al maddiyyah al tarikhiyyah), sedangkan bagian terakhir terhadap konsepsi-konsepsi materialisme lain, lalu penutup.

 

Buku ini bukan tanpa kritik. Dr. Adnan Owaid menulis 5 seri artikel ilmiah yang cukup pedas mengkritisi karya filsafat al Buthi ini. Owaid berpendapat bahwa Marx, Engels dan Lenin di buku ini lebih terlihat sebagai ilmuan fisika yang sibuk membahas atom dibandingkan filosof yang menguraikan teori untuk membaca struktur kelas sosial. Owaid juga menuduh al Buthi tidak memiliki kredibilitas ilmiah dikarenakan sedikit sekali penulis mencantumkan referensi yang seharusnya dan memahami pemikiran Hegel melalui tulisan François-Jean de Chastellux, hegelian kanan Kristen yang mencoba mengarahkan idea mutlak Hegel kepada Roh Kudus yang kemudian diadopsi oleh penulis. Gaya pembahasan penulis yang tendensius membelokkan kajian materialisme dialektika menjadi pembahsan filsafat teologis tentang eksistensi Tuhan. Selain itu masih banyak lagi kritik yang Owaid sampaikan yang menurut kami tidak kalah tendensius.

 

Diantara puluhan karya penulis, buku ini tergolong yang paling sulit dibaca. Berbeda dengan buku-buku penulis yang ditulis dengan gaya sastra Arab modern, buku ini ditulis dengan bahasa Arab modern dengan gaya bahasa filsafat yang jarang dipelajari oleh pelajar bahasa Arab. Pembaca diharuskan memiliki perbendaharaan kosakata(mufrodat) untuk studi filsafat yang cukup dalam, serta memiliki dasar pengetahuan filsafat, khususnya materialisme, idealisme serta dialektika Hegel dan Marxis. Saran kami, pembaca yang bukan penutur asli bahasa Arab (Ajam) sebaiknya mempelajari dasar kedua filsafat tersebut dari buku yang ditulis dengan bahasa masing-masing, agar lebih mudah memahami buku ini.

Sayangnya, buku ini belum beredar di Indonesia dan belum ada versi bahasa Indonesia. Namun begitu, terdapat banyak situs di internet yang membagikan versi e-book dari buku ini dengan gratis. Menurut kami, akan sangat menarik jika ada penerjemah yang berminat menerjemahkan buku ini ke dalam bahasa Indonesia dan Inggris mengingat minimnya buku-buku filsafat yang ditulis oleh penulis muslim khususnya dari kalangan ulama. Bagi pembaca yang menginginkan kajian filsafat murni seperti yang dijanjikan penulis mungkin akan dikecewakan dengan gaya dan arah pembahasan penulis yang cukup tendensius. Latar belakang penulis sebagai ulama berhaluan teologi Asy’ari menjadikan pembasan buku ini secara tendensius membela theisme khususnya agama Islam. Namun bagi kalangan muslim yang ingin belajar mengkritik filsafat dengan filsafat, ataupun pengkaji filsafat yang ingin mengetahui warna lain dari filosof kanan, buku ini bagus untuk dibaca.

*Resensi ini pernah dimuat di majalah al Bashiroh vol 50

2 thoughts on “Resensi buku Naqdu awham al Maddiyyah, Kritik Materialisme Dialektis Dr Buthi

  1. owh, diantara cara biar tidak tergolong “kelas anak tk” tuh, ternyata dengan memuat resensi kitab toh…
    lumayan terinspirasi mas, tinggal nulis cover, baca mukaddimah di depan, ama daftar isinya di belakang, terus dibuat essay… ^_^ #bisa_ditiru_nih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *