Uncategorized

(Kemungkinan)Seni dan humor(tertentu) sebagai terapi jiwa

Ingatkah kita dengan salah satu kutipan JFK tentang cara membuat dunia lebih aman? Katanya jika politikus lebih banyak baca baca puisi dan penyair lebih banyak tahu politik. Mungkin atas alasan itu ia membacakan puisi Road not Takennya Robert Frost sewaktu pelantikannya. Amankah dunia setelah negara polusi #eh polisi dunia itu setelah pelantikannya? Iya, kurang dari 3 bulan setelahnya ia mengirim milisi ke Teluk babi untuk menggulingkan Fidel Castro, yang sampai saat itu tak pernah sekalipun mengancam Gedung Putih. Misi gagalpun tak membuatnya patah semangat, hampir setiap hari ancaman dan percobaan pembunuhan menghantui mantan presiden Kuba itu.

Cerita lain dari negri hantu melengkung(baca: palu arit kuminis), pena Jenderal Lu Shun mengalir lancar. Ia bersajak tentang langit dan mega, syahdunya kepakan bangau, dan cintanya kepada seorang putri. Padahal beberapa waktu sebelumnya ia gelisah karena penanya berhenti menari. Sejarah mencatat ternyata ia habis mendapat ilham. Apa itu? ia bersama pasukannya menyerbu sebuah dusun, mengayunkan pedang ke leher puluhan laki-laki dan perempuan yang sedang terlelap. Setelah puas mandi darah ia berpesan ke seluruh bala tentaranya: ‘Jangan aku diusik sementara ini.(1)

Dulu ada sastrawan muslim yang begitu yakin dengan kata Imam Syafi’I, bahwa belajar sastra bisa melembutkan hati. Namun ia terperangah dan bingung setelah melihat sastrawan hebat Mesir duduk di kursi bak raja di hadapan murid2nya, melontarkan syair penghinaan kepada mereka yang diserupakan dengan binatang. Apa respon murid2nya? Bagai budak yang takut atau kehilangan akal, mereka hanya menjawab na’am ya maulaya, inggih wahai majikan kami.

Sampai titik ini saya masih meragukan seni cukup efektif melenturkan jiwa, atau malah bisa dijadikan penenang jiwa setelah memakan sesama. Kadang dia bukan obat untuk mengobati penyakit hati, namun pisau yang punya dwifungsi, tergantung siapa yang memakainya.

Lalu bagaimana dengan humor?

Saya punya pengalaman hidup cukup lama dengan suku-suku dari negeri antah berantah yang belum lelah berperang sampai sekarang, mereka mengaku sebagai suku dengan selera humor tinggi yang suku lain gk akan tahan. Tapi toh gk membuat hati mereka lentur, kata Kyai hubbud dunya, mereka wong angelan. Dipuji marah, direndahkan lebih marah lagi. Malah video parodi jagoan mereka yang ngelawak di atas panggung bikin produksi laknat dan sumpah serapah gk habis2. Padahal ya cuman humor yang ditanggapi dengan humor. Setelah saya amati sekedarnya, ternyata kelas humornya memang beda. Humor memang sangat efektif melenturkan jiwa, apalagi kalau objeknya adalah diri sendiri. Namun bukan humor picisan kelas siaran tv yang ituh, humor yg melembutkan jiwa adalah humor yang cerdas, humor yang melibatkan proses berpikir sebelum tertawa, humor yang didahului kesadaran betapa diri ini kualitasnya hanya begitu sajah(3). Jadi kalau sampeyan tidak bisa tertawa dengan kata-kata jorok dan penghinaan, atau bingung sendiri melihat orang-orang dewasa tertawa karena lelucon garing, jangan pesimis dulu. Bisa jadi memang selera humor anda lebih tinggi, atau memang hati situ sudah membatu :p .

 

(1)Dikutip dari https://indoprogress.com/2017/05/usulan-revisi-puisi-tuan-denny-untuk-jenderal-gatot/

(2) Sayangnya saya lupa di mana referensinya, tolong pembaca yang tahu berkenan membantu melacaknya.

(3)Lebih lanjut, silahkan googling tentang hubungan antara selera humor dan kecerdasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *