Dalam rangka : “success is the best revenge”
dan
ادفن وجودك فى أرض الخمول فما نبت مما لم يدفن لا يتم نتاجه
(Kuburlah keberadaan dirimu dalam tanah pengasingan, karena apa yang tumbuh tanpa ditanam di tanah tidak akan sempurna hasilnya)
***
Seri 1
—–
Ini adalah resensi sekaligus tulisan terakhir saya sebagai redaksi(juga editor) majalah, merupakan tulisan yg gagal dibuat ‘sekeren’ mungkin berdasarkan rencana awal, namun cukup representatif menggambarkan sejauh mana saya merangkak dalam kancah keilmuan selama belajar di pesantren. Intinya saya tidak ingin terjebak dalam tren kemahiran yang dikotomis antara pemahaman terhadap turats dan apa yang disebut ilmu umum,juga tidak ingin terjebak dalam pemahaman sempit yang membenturkan etika unyu dan sikap kritis dalam menyikapi pemikiran para ulama. Terjemah yang saya gunakan di artikel ini merupakan istilah baku dalam tradisi fan tersebut, yang tentu didapatkan melalui proses belajar dari sumber yang kredibel. Tulisan ini selain tujuan sampingan sebagai refleksi pribadi, Honestly tujuan utamanya adalah memerkan kelas saya terhadap siapapun yang mampu menganalisa kepribadian dan kapasitas seseorang melalui bobot dan gaya tulisannya, juga media publikasinya. Jujur dan sadar diri bahwa hasilnya sama sekali gk hebat, tapi kalo perbandingannya cuman cecenguk2 yang menghabiskan belasan umur memburu “varokah” ya masih menang banyak lah 😏😜 ..
Al Buthi merupakan salah satu tokoh yang paling saya kagumi di abad ini, jurnal terakreditasi pertama yang saya tulis bahkan mengangkat dan mempromosikan pemikiran beliau. Buku yg diresensi ini, disamping karya dan ceramah beliau melegitimasi gelar kehormatan yang disematkan terhadap beliau sebagai al Ghozali di eranya. Namun sebagaimana manusia lainnya, pemikiran beliau tentu tak lepas dari sisi yang dapat dikritik.
Salah satu poin kritik yang saya sepakati dari Dr. Adnan Owaid adalah bagaimana beliau membelokkan kesan ketiga tokoh dialektika yang terkenal sebagai filosof terlihat menjadi seperti fisikawan yang sibuk dengan hakikat atom. Kritik lain dari saya pribadi adalah bagaimana beliau melalui retorikanya memberi kesan kesamaan antara komunisme, sosialisme dan atheisme. Ini salah satu kekeliruan berpikir yang juga saat ini sedang gencar2nya dihembuskan untuk menjatuhkan wibawa pemerintah Indonesia sekarang, tentu saja al Buthi sebagai ulama Suriah tidak memiliki motif yang searah dan korelasi apapun dengan provokator di Indonesia. Ada lima seri artikel kritik Adnan Owaid yang menarik untuk diangkat dan didiskusikan menjadi tulisan terpisah yang insya Allah membosankan untuk dibaca. Namun karena males dan kesibukan saat ini, serta tujuan utama dari posting ini udah tercapat(pencitraan), rencana tulisan pengantar tidur tersebut akan saya selesaikan dan publikasikan di waktu yang sudah tertulis di lauhil mahfudz 😅